Perbedaan Padi Hibrida dan Inbrida

Semakin sempitnya lahan yang ditambah oleh semakin tingginya biaya produksi mengharuskan petani untuk menggunakan benih padi varietas unggul untuk meningkatkan hasil panen yang melimpah. Penelitian tantang varietas unggul baik padi hibrida maupun padi inbrida digalakkan oleh pemerintah dengan mengeluarkan sertifikat benih untuk menjamin kualitas benih panih unggul.

padi hibrida varietas unggul

Varietas padi hibrida adalah benih padi yang terbentuk dari benih generasi pertama atau lebih dikenal dengan istilah F1 dari hasil pemuliaan turunan suatu kombinasi persilangan antar jenis padi tertentu dengan keunggulan berpotensi mendapatkan hasil yang lebih tinggi dan tahan terhadap hama tertentu juga. Padi hibrida bersifat heterozigot homogen yang berdampak pada keseragaman tumbuh dan galur yang dihasilkan. Bila ditanam secara luas padi hibrida akan kelihatan lebih seragam dibandingkan dengan padi inbrida.

Karena bersifat heterozigot hasil panen padi hibrida atau turunan keduanya tidak bisa dibenihkan kembali sehingga harus terus membeli yang benih baru setiap musim tanam.

Varietas padi hibrida yang berkembang di Indonesia adalah varietas padi hibrida yang dibentuk menggunakan metode tiga galur, yaitu galur mandul jantan (GMJ) atau CMS (galur A), galur pelestari atau maintainer (galur B), dan tetua jantan yang sekaligus berfungsi sebagai pemulih kesuburan atau restorer (galur R). Ketiga galur (A; B; dan R) tersebut harus dibuat dan diseleksi secara ketat untuk membentuk hibrida unggul. Metode hibrida tiga galur mempunyai kelemahan antara lain produksi benihnya rumit, tidak setiap varietas dapat dijadikan sebagai tetua pembentuk varietas padi hibrida, dan hanya varietas yang tergolong restorner saja yang dapat dijadikan sebagai tetua jantanya.

Padi merupakan tanaman menyerbuk sendiri, sehingga secara alami varietas yang terbentuk berupa galur murni (inhibrida). ika semua lokus (tempat gen) pada tanaman tersebut telah homosigot (terisi oleh gen yang sama), maka dikatakan galur tersebut telah murni (galur murni) dan akan melakukan penyerbukan sendiri menghasilkan keturunan yang seragam dan sama persis dengan pertanaman generasi sebelumnya. Galur-galur murni terbaik sesuai dengan tujuan pemuliaan dilepas sebagai varietas
unggul. Varietas padi demikian adalah merupakan varietas padi inhibrida (galur murni). Contohnya adalah PB5, PB8, IR-64, Cisadane, Ciherang, Widas, Wayapoburu, Cimelati, Gilirang, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita petik beberapa pelajaran dari padi inhibrida dan hibrida sebagai berikut :

  1. Varietas unggul padi hibrida memiliki potensi hasil lebih tinggi (sekitar 30%) daripada varietas unggul inhibrida.
  2. Pada padi inhibrida petani dapat mengusahakan benih sendiri, sedangkan pada padi hibrida petani harus selalu membeli benih dari perusahaan benih.
  3. Produksi benih hibrida lebih rumit, sehingga harganya lebih mahal.
  4. Setiap daerah dan petani memiliki varietas terbaik, sesuai dengan kondisi dan tujuan masing-masing.

Penggunaan benih padi unggul adalah salah satu faktor yang mempengaruhi hasil panen namun faktor lingkungan dan perawatan menjadi penyembab utama sukses atau tidaknya petani mendapatkan hasil sesua yang ditargetkan. Tidak akan berdampak signifikan bila petani tidak merawat padi dengan prosedur yang benar dan tidak akan mendapatkan hasilkan memuaskan bila tanpa air yang cukup.